Beranda Ragam Adat Tradisi Among-Among

Adat Tradisi Among-Among

4 menit membaca
0
0
100
Tradisi among-among

Adat dan tradisi warga masyarakat Desa Kalikudi masih sangat kental. Seperti halnya tradisi among-among. Tradisi ini sering dilakukan sebagai kegiatan atau acara selamatan wetonan atau hari lahir seseorang.

Among-among biasanya dimulai sejak pertama kali anak baru lahir. Pada hari tertentu dalam hitungan Jawa, hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu dan hari pasaran pon, wage, kliwon, legi, pahing yang digabungkan hari biasa dengan hari pasarang seperti Senin pon. Hari ini lah yang menjadi hitungan hari wetonan (hari pada saat seseorang lahir).

Tradisi among-among biasanya seringkali dijumpai pada masa anak-anak. Sekitar berumur di bawah usia tiga tahun. Pengetan Among-among juga merupakan salah satu upaya ucap syukur kepada Allah SWT yang sudah memberikan kesehatan kepada si jabang bayi.

Hidangan Among-among adalah beberapa sayuran hijau yang direbus atau sering disebut dengan kluban adem, telur rebus, nasi putih dan kedelai hitam yang disajikan pada nampan. Nasi putih sebagai dasarnya dan ditaburi gorengan kedelai hitam serta sayuran hijau yang direbus diletakan pada pinggir mengelilingi. Pada bagian atas ada irisan telur rebus sebagai lauknya.

Nampan tersebut ditaruh di atas baskom yang berisi air yang ada daun dadap srep serta uang koin. Sedangkan masyarakat yang diundang dalam acara among-among adalah anak-anak yang berkumpul mengililingi nampan bundar tersebut. Doa ucap syukur pun dilantunkan sebelum acara dimulai. Setelah selesai, anak-anak diberi uang saku yang diambil pada baskom tersebut dan membawa bekal (baca: mbrekat). Terakadang juga anak-anak langsung diberi uang saku secara bergiliran menerimanya.

Tradisi among-among tidak hanya pada usia anak-anak saja, melainkan pada usia remaja hingga dewasa masih ada juga. Namun, cara selamatannya berbeda dengan pada usia anak-anak. Walaupun penyajiannya tetap seperti saat among-among, biasa disebut dengan tompon. Selain itu juga yang diundang untuk selamatan adalah para bapak-bapak tetangga kepala keluarga.

Itulah salah satu tradisi yang masih ada dan dilestarikan oleh warga masyarakat Desa Kalikudi. Kebudayaan dan adat memang harus tetap ada dan menjadikan pondasi sebuah kebudayaan negara. Selain itu juga akan lebih mengenal desanya sendiri dengan adat dan budaya masing-masing desa.

(wah)

Lihat artikel lainnya
Lihat yang lain dari Desa Kalikudi
Lihat yang lain pada Ragam

Baca yang lainnya

Selamatan Labuhan, bertanda musim tanam padi di Desa Kalikudi telah dimulai

Kalikudi – Musim tanam padi di Desa Kalikudi Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap sud…