Jelang Ramadhan Ribuan Kejawen Gelar Ritual Punggahan di Banyumas


Anak Putu Kalikudi sedang beristirahat untuk perjalanan selanjutnya di Pasar Kesugihan

Banyumas – Ribuan penganut kejawen dari berbagai daerah mengikuti ritual Punggahan di Penembahan Banakeling Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Ritual punggahan adalah tradisi dari turun-temurun yang dilakukan setiap jelang bulan ramadhan, Jumat (19/5/2017).

Juru Bicara anak putu Desa Kalikudi Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah Kyai Nakam menjelaskan bahwa peserta punggahan sendiri adalah merupakan keturunan cikal bakal Banakeling yang tersebar di berbagai daerah dengan masing-masing juru kunci (kuncen). Mereka biasa disebut dengan “Anak Putu”.

Ia menambahkan acara punggahan berlangsung selama tiga hari yakni pada hari kamis hingga sabtu. Hari kamis-nya untuk perjalanan ke Penembahan Banakeling, pada hari Jumat-nya merupakan hari yang penting, seluruh anak putu melangsungkan bekten. Setelah itu untuk hari Sabtu, mereka pulang kembali ke daerahnya masing-masing.

Peserta yang ikut dari Desa Kalikudi sendiri ada kurang lebih 150 orang. Yang merupakan gabungan dari Pasemuan Kalikudi Lor dan Pasemuan Kalikudi Kidul. Selain itu masih ada keturunan lain di daerah Cilacap yaitu Daun Lumbung, Gandrungmangun, Doplang, Jepara, Banjarsari, Pungla, Pucung, Adiraja hingga Widara Payung. Mereka mengikuti prosesi punggahan di Penembahan Banakeling.

Nakam juga menjelaskan Anak putu Kalikudi Lor dan Kidul berangkat sekitar pukul 08.00 pagi hingga ke tempat persitirahatan pertama di Pasar Kesugihan. Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Nantinya akan berangkat bersama-sama dengan rombongan dari anak putu Daun Lumbung dan beberapa daerah lain.

Tempat istirahatnya sendiri ada lima lokasi. Pertama di sini di Pasar Kesugihan, Kedua di Pesanggrahan, Ketiga di Durenan, Keempat di Perbatasan dan yang terakhir di Kenyasan imbuhnya.

Di perbatasan wilayah Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas para tamu rombongan yang datang dijemput oleh tuan rumah dari Anak Putu Pekuncen, Jatilawang. Pikulan-pikulan yang berisi hasil bumi untuk digunakan selamatan yang dibawa oleh anak putu diserahkan kepada tuan rumah. Para kasepuhan melangsungkan serah-terima pikulan tersebut. Lantas para anak putu Pekuncen menggantikannya memikul pikulan hingga sampai pada lokasi Pasemuan Pekuncen.

Pada Pasemuan Pekuncen yang berada di sekitar Penembahan Banakeling sudah banyak yang beradatangan. Seperti halnya dari daerah Desa Adiraja Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Mereka berjumlah 693 orang yang mengikuti prosesi punggahan tahun ini. Sedangkan Anak Putu Daun Lumbung dan Anak Putu Kalikudi tiba di Pasemuan Pekuncen sekitar pukul empat sore.

Tibanya di lokasi, para kasepuhan dari Daun Lumbung, Kalikudi dan lainnya melangsungkan bekten ke tuan rumah. Menanyakan keselataman ke masing-masing kasepuhan Pekuncen. Begitu juga sebaliknya. Karena sudah lama tidak bertemu setahun sekali dalam acara punggahan.

Tengah malam pada malam Jumat-nya para peserta ritual punggahan melangsungkan selamatan atau ritual muji. Ritual ini diikuti oleh seluruh pengikut kepercayaan dari berbagai daerah.

Pada hari Jumatnya merupakan hari puncak prosesi punggahan. Di mana seluruh hasil bumi dan ubarampe lainnya dimasak untuk keperluan selamatan. Beberapa hewan ternah seperti Sapi, Kambing dan juga Ayam disembelih dan dibecek untuk selamatan.

Masing-masing bonggol sudah memiliki tugasnya tersendiri yang sudah ditetapkan turun temurun dari jaman dahulu. Seperti Anak Putu Daun Lumbung dan Kalikudi, itu tugasnya resik penembahan dan sekitarnya. Sementara Anak Putu Pekuncen (tuan rumah) tugasnya ya memasak dan mempersiapkan segala keperluan selamatan nanti malam, jelas Sarno

Setelah resik kubur, seluruh pengikut Banakeling melangsungkan bekten. Untuk pertama kali rombongan Pawestri yang bekten ke leluhur. Setelanya para kyai dari berbagai daerah secara berututan yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Yang memimpin pertama adalah Anak Putu Daun Lumbung diikuti Anak Putu Kalikudi dan seterusnya secara berurutan.

Bila semua pengikut sudah selesai bekten. Selanjutnya melakukan selamatan mengucap syukur kepada Allah SWT. Selesainya selamatan barulah tugas Anak Putu Kalikudi, membersihkan semua sisa persiapan selamatan. Dari dedaunan, abu-abu kayu, dan sebagainya. Itu sudah menjadi tugas Anak Putu Kalikudi, tidak ada yang berani sembrono membersihkannya selain Anak Putu Kalikudi, imbuh Sarno.

Ritual punggahan sudah sejak dahulu secara turun temurun dilestarikan oleh para pengikutnya. Punggahan sendiri ditempuh dengan berjalan kaki puluhan kilometer dari Pasemuan masing-masing ke Penembahan Banakeling yang sudah menjadi pakem. Lalu mereka akan kembali ke daerahnya masing-masing juga berjalan kaki, Sabtu (20/5/2017). (wh)

log in

reset password

Back to
log in